Senin, 27 September 2010

CARA CEPAT BELAJAR BACA KITAB KUNING


  • Jika mau berusaha, niscaya dalam waktu 3-6 bulan, seorang santri sudah bisa membaca kitab kuning secara baik dan benar. Mengenai makna atau arti, itu urusan kamus.


    Diakui atau tidak, banyak umat Islam yang tidak bisa membaca Alquran dengan baik dan benar. Dan, jangankan seluruh ayat-ayat Alquran, surah Alfatihah saja, terkadang masih banyak yang belum fasih dalam membacanya. Termasuk, mereka yang sudah berhaji sekali pun.

    Bila membaca Alquran yang sudah ada harakatnya saja kesulitan, tentu akan lebih sulit lagi apabila membaca kitab kuning yang ditulis tanpa ada harakatnya. ''Ya, inilah tantangan kita semua. Sebenarnya, membaca kitab kuning itu mudah, asal tahu caranya,'' kata KH Taufiqul Hakim, penemu metode cara cepat membaca kitab kuning, yang juga pengasuh Ponpes Darul Falah, Bangsri, Jepara, akhir pekan lalu, saat mewisuda 25 santri putra dan putri dari Ponpes Al-Matin, Ciputat, Tangerang.

    Kepada Syahruddin El-Fikri dari Republika, pria kelahiran Jepara, 34 tahun yang lalu ini bercerita tentang awal mula menemukan Metode Amtsilati yang dikembangkannya. Berikut perbincangannya.


    Bagaimana awalnya sehingga Ustaz membuat metode cara cepat membaca kitab kuning?
    Seperti kebanyakan para santri yang mondok di pesantren, setelah lulus atau tamat, mereka banyak yang kesulitan membaca kitab kuning. Padahal, mereka menuntut ilmu di pesantren hingga waktu yang lama. Ada yang tiga tahun, lima tahun, bahkan ada yang sampai 10 tahun.

    Dan, selama itu pula, mereka biasanya mengaji kitab kuning dengan para pengasuh pesantren, ustaz, maupun santri senior yang memiliki kemampuan dalam membaca kitab kuning.

    Selama di pesantren, mereka mendapatkan pelajaran, seperti nahwu yang dipelajari dari kitab kuning, di antaranyaAjurumiyah, Alfiyah Ibnu Malik, Nazam Imrithi, dan nahwu al-Wadlih. Begitu juga, dengan ilmu sharaf, seperti kitab tashrif yang memuat sekian ratus hingga ribuan tashrif untuk sebuah kata.

    Agar memahami materi dalam kitab nahwu maupun sharaf itu, mereka umumnya harus menghafalkan. Kalau tidak hafal, biasanya mereka kesulitan untuk mempraktikkannya saat membaca kitab kuning.

    Karena sudah sekian lama belajar, kemudian mereka keluar dari pondok pesantren, ada sebagian di antaranya yang tidak mampu lagi membaca kitab kuning. Bahkan, kedudukan masing-masing kalimat atau kata sudah tidak diketahui lagi.

    Hal ini pula yang saya alami. Sekitar seribu nazam Alfiyah yang pernah saya pelajari dan hafalkan hingga selesai sekolah di madrasah aliyah, saya tidak tahu apa kegunaannya. Akhirnya, semuanya hilang. Sementara itu, keinginan untuk membaca kitab kuning sangat kuat. Namun, membaca secara baik dan benar kesulitan.

    Berdasarkan pengalaman pribadi ini, akhirnya saya mencoba membaca sedikit demi sedikit. Kemudian, ayat-ayat yang ada dalam Alquran atau kitab kuning saya coba tulis dalam bentuk selembar kertas lengkap dengan harakatnya. Lalu, setelah saya baca, kemudian saya pahami, saya tulis lagi ayat-ayat tersebut pada kertas lainnya tanpa harakat. Saya terus praktikkan seperti itu, hingga akhirnya saya mulai bisa membaca tulisan arab yang tanpa harakat dengan benar.

    Setelah itu, saya cari dasarnya. Kenapa tulisan mim dan nun seringkali dibaca min, dan jarang sekali dibaca man. Lalu, mengapa setiap akhir dari kata min itu, selalu diakhiri dengan huruf berharakat kasrah (bawah). Apa dasarnya dan bagaimana kedudukannya?

    Nah, dasar dan kedudukannya itu kemudian saya cari dalam Alfiyah. Oh, ternyata kata min itu adalah bentuk huruf jer yang memberi harakat di bawah pada akhir huruf dari kata berikutnya. Misalnya, min al-Suuki, min al-madrasati, dan min funduqi.

    Begitu juga, dengan kata ilaa, 'an, 'ala, fi, bi, li, rubba, dan ka. Dari situs, akhirnya saya dapat kesimpulan bahwa setiap ada huruf jer ini, kata berikutnya akan berharakat kasrah pada huruf terakhirnya. Begitulah seterusnya.

    Bagaimana kemudian Ustaz memformulasikannya ke dalam sebuah buku Amtsilati itu?
    Setelah saya meyakini bahwa apa yang saya pelajari sudah benar. Kemudian, saya coba praktikkan kepada beberapa teman saya yang dulu sempat mondok juga dan pada seorang anak kecil yang berumur sekitar delapan tahun.

    Tanpa disangka-sangka, setelah saya ajarkan metode itu, kemudian saya suruh mereka menghafalkan beberapa nazam yang menjadi dasar dari kalimat atau kata yang dipelajari, mereka pun mampu mengungkapnya dengan baik dan benar.

    Maka, mulai dari situlah saya yakin, metode ini bisa memberi manfaat bagi orang banyak, termasuk mereka yang tidak atau belum mengenal huruf hijaiyah sekalipun. Dari situlah, akhirnya saya menulis buku Amtsilati tersebut.

    Berapa lama Ustaz menuliskan metode dan kaidah itu ke dalam buku Amtsilati tersebut?
    Prosesnya memang cukup panjang dan unik pula. Setelah saya menyelesaikan pendidikan di Mathaliul Falah, Kajen, Pati, saya mendapatkan pelajaran Alfiyah. Saya tidak mengerti, yang penting disuruh menghafal dulu. Setelah hafal, saya bingung mau diapakan seribu nazam yang telah saya hafalkan itu. Baru naik kelas dua aliyah, mulai sedikit memahami akan kegunaannya. Dan, ketika lulus seperti yang saya ceritakan itu, saya mencoba mempraktikkannya, sedikit demi sedikit.

    Lalu, ketika keinginan makin besar dan saya kebingungan bagaimana menuliskannya, saya kemudian sempat menuntut ilmu lagi di Ponpes al-Manshur, Popongan, Klaten, pimpinan KH Salman Dahlawi.

    Di Ponpes ini saya mondok dengan sepenuhnya mengambil pendidikan thoriqah (tarekat--Red). Saya bertekad, tidak akan pulang ke rumah sebelum khatam thoriqah (tamat tarekat), mumpung belum menikah, ketika itu tahun 1996.

    Alhamdulillah, selama 100 hari saya diberi anugerah Allah bisa menghatamkan thoriqah, yang mestinya ditempuh sampai lima tahunan. Saya kemudian pulang kampung.

    Dari sini, selama beberapa tahun, tepatnya sekitar tahun 2000 saya meneruskan pondok yang pernah saya rintis sewaktu tamat dari Mathaliul Falah.

    Ketika itulah, saya sempat mendengar ada sistem belajar cepat membaca Alquran yang dikenal dengan metode Qiroati. Terdorong dari metode Qiroati yang mengupas cara membaca Alquran yang ada harakatnya, saya ingin menulis yang bisa digunakan untuk membaca yang tidak ada harakatnya.

    Memang, ketika orang mendengar nama nahwu, yang dipikirkan akan menjadi ngelu. Membaca buku atau kitab sharaf, seolah-olah membikin tegang syaraf. Maka, terbetiklah nama Amtsilati yang berarti beberapa contoh. Maka, mulai tanggal 27 Rajab, tepatnya tahun 2001 M, saya mulai merenung dan muncul pemikiran untuk mujahadah.

    Di dunia tarekat, istilah ini sering digunakan ketika seseorang mengalami kesulitan lalu melakukan mujahadah agar mendapatkan petunjuk. Sambil mengamalkan doa-doa yang ada dan jika seseorang itu ikhlas melaksanakannya, niscaya akan diberi kemudahan. Mulailah saya melakukan mujahadah setiap hari hingga tanggal 17 ramadhan atau bertepatan dengan Nuzulul Quran. Kadang, ketika mujahadah, saya sempat ziarah ke makam Mbah Ahmad Mutamakkin, Kudus.

    Dalam mujahadah itu, saya merasa berjumpa dengan Syekh Muhammad Baha'uddin An-Naqsyabandiyyah, Syekh Ahmad Mutamakkin, dan Imam Ibnu Malik. Hari itulah, pada 17 Ramadhan itu, saya merasa ada dorongan yang sangat kuat untuk segera menuliskannya. Dan, Alhamdulillah, dorongan itu saya lakukan hingga akhirnya tanggal 27 Ramadhan atau 10 hari ketika saya memulai menulis, terwujudlah buku Amtsilati dalam tulisan tangan.

    Selanjutnya, naskahnya diketik oleh beberapa sahabat saya, yang kurang lebih membutuhkan waktu sekitar satu tahun, karena dilengkapi pula dengan khulashah dan dasar-dasar dari setiap contoh kata. Dari 10 ribu nazam Alfiyah hanya ada sekitar 184 yang kami pakai dalam buku Amtsilati. Dan, Insya Allah, itu semua sudah mencakup keseluruhan Alfiyah. Dan, selanjutnya, buku itu kami cetak sebanyak 300 eksemplar.

    Bagaimana tanggapan masyarakat atas buku ini?
    Ya, pertama kali, untuk membuktikan apakah metode yang saya gunakan berhasil, diadakanlah bedah buku pada 22 Juni 2002 di Jepara. Alhamdulillah, beragam tanggapan muncul, ada yang pro dan ada pula yang kontra.

    Rupanya, dalam bedah buku di Jepara itu, ada seorang peserta yang tertarik kemudian mengundang kami menyampaikan lagi di Ponpes Manba'ul Quran di Mojokerto.

    Untuk acara di Mojokerto, kami cetak lagi buku Amtsilati sebanyak seribu eksemplar. Alhamdulillah, responsnya sangat positif. Dari sini kemudian, berbagai undangan pelatihan kami terima. Baik yang diselenggarakan oleh perguruan Tinggi seperti Universitas Darul Ulum (Undar), Jombang, juga di Jember, Pamekasan, dan beberapa kota lainnya, termasuk Malaysia.

    Bahkan, setelah seminar dari seminar, lalu pelatihan ke pelatihan, semakin meluaslah buku Amtsilati dan banyak masyarakat yang menyambut baik buku yang kami tulis tersebut. Alhamdulillah, hingga saat ini, buku Amtsilati telah terjual sebanyak tujuh juta eksemplar.

    Dan, banyak pula kalangan mahasiswa, baik setingkat S-1 hingga S-3 yang tertarik untuk melakukan penelitian tentang metode yang kami tulis. Alhamdulillah, semuanya memberikan respons positif.

    Apakah buku ini bisa dipelajari sendiri tanpa harus melalui seorang guru?
    Ya, ini yang sekarang menjadi tantangan bagi kami untuk melakukannya. Terus terang, hingga saat ini saya sangat berharap metode Amtsilati bisa dipelajari setiap orang. Tapi, untuk saat ini, harus dengan seorang guru atau koordinator pesantren yang kami tunjuk. Saya masih khawatir, metode yang kami harapkan, yaitu seseorang bisa membaca kitab kuning dalam jangka waktu antara 3-6 bulan selesai. Nah, bila sendirian, saya khawatir hal itu tidak terpenuhi.

    Jadi, untuk sementara ini, hendaknya bisa melalui koordinator pesantren yang telah kami tunjuk. Alhamdulillah, jumlah koordinator pesantrennya sudah cukup banyak tersebar mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jabodetabek, Kalimantan, Sumatra, dan lainnya.

    Apakah buku ini juga dijual bebas?
    Untuk sementara tidak dijual bebas. Seperti tadi, saya khawatir mereka yang belajar sendiri akan kesulitan memahaminya. Lebih baiknya, silakan mereka menghubungi pesantren-pesantren yang ada, silakan mencari bukunya di sana dan bisa belajar Amtsilati kepada mereka.

    Apalagi, buku Amtsilati itu ada lima jilid, yang perlu penjelasan dari seorang guru. Mereka yang belajar tidak diperkenankan naik ke jilid berikutnya sebelum selesai jilid di bawahnya.


    Apa harapan selanjutnya dari buku ini?
    Saya berharap, makin banyak orang yang bisa membaca kitab kuning dengan baik dan benar. Yang penting bisa baca dulu, tahu kedudukan dari setiap kata dan kalimatnya, bisa memberikan harakatnya dengan tepat. Itu yang penting. Mengenai maknanya, gampang, nanti tinggal buka di kamus, akan didapatkan makna atau arti dari kalimat itu.

    Dan, selanjutnya, yang saya harapkan, ada santri yang mampu membuat lebih cepat lagi sehingga makin mudah bagi seseorang untuk belajar membaca kitab kuning.


    Agama Islam Itu Hebat

    ''Agama Islam itu hebat dibandingkan dengan agama lainnya,'' kata KH Taufiqul Hakim menegaskan.

    Mengapa? ''Karena sejak 14 abad silam, Alquran sudah membuat dan menuliskan berbagai teori yang sekarang banyak diklaim umat lain,'' paparnya.

    Ia menyebutkan, beberapa penemuan ilmuwan dari Eropa, seperti kompas, mesiu, dan mesin percetakan. Ketiga jenis penemuan ini, ungkapnya, merupakan kunci dalam membuka cakrawala dunia.

    ''Maknanya dari ketiga jenis penemuan itu adalah umat Islam itu harus cerdas,'' katanya menegaskan.

    Pria kelahiran Jepara, pada 14 Juni 1975 ini menyebutkan, kompas yang menunjukkan arah mata angin, seperti timur, barat, utara, dan selatan, justru telah dibicarakan oleh Alquran 14 abad silam.

    ''Kita punya kompas sejati, yaitu Alquran. Artinya, bila kompas menunjukkan arah manusia untuk menuju satu tempat dan dengan itu dia bisa selamat, Alquran justru akan menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat. Dengan Alquran, tentu kita akan bisa menguasai dunia,'' terangnya.

    Kemudian, penemuan mesiu. Ketika masyarakat Eropa menggunakan mesiu dan memanfaatkannya sebagai senjata, jelas suami Hj Faizatul Mahsunah ini, umat Islam juga punya senjata yang sangat ampuh. Senjata itu berupa doa, zikir, asmaul husna, shalawat, dan wirid.

    ''Dengan niat yang tulus, ikhlas, dan semata-mata hanya karena Allah, niscaya Allah akan memudahkan kita mencapai kemajuan, asal dibarengi dengan usaha yang sungguh-sungguh,'' jelasnya.

    Alquran, papar bapak dua anak ini, merupakan sumber ilmu pengetahuan, yang memungkinkan setiap umat Islam untuk terus menggalinya dan mengamalkannya dalam kehidupan.

    Selanjutnya, ketika bangsa Eropa menemukan mesin percetakan untuk mendistribusikan ilmu pengetahuan, jauh sebelumnya Alquran sudah membicarakannya. ''Iqra' bismirabbikal ladzi khalaq, Khalaqal Insana min 'Alaq, Iqra' wa rabbukal akram. Alladzi 'allama bil qolam. 'Allamal Insana maa lam ya'lam. Alquran sudah mengajarkan manusia untuk membaca dan menulis. Kemudian, hadirnya sekolah-sekolah dan madrasah yang mampu mencetak generasi Islam yang lebih baik,'' katanya.

    Lembaga pendidikan, menurutnya, jauh lebih hebat dari hanya sebuah mesin percetakan. ''Kalau mesin percetakan bisa dicetak untuk mendistribusikan sebuah buku dari seorang penulis, sebaliknya lembaga pendidikan bisa mencetak dan menghasilkan penulis-penulis buku yang hebat,'' terangnya.
    Oleh karena itu, KH Taufiqul Hakim mengimbau umat Islam, senantiasa mempelajari Alquran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. sy

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar